Pemakaman

angin mendesis, merayu ranting-ranting yang meranggas dan terkulai di antara batas

nafas terengah di antara bebatuan dan duri

langit muram, semalaman menyekapku, tersedu

si putih bercahaya

mengeras di lantai waktu

tak henti-hentinya menunggu

kapan tiba waktuku

(my lovely albiga, may Allah bless you, sayang… 6-1-2013 – 15-9-2013)

Advertisements

salahku, sahabatku -frau-

Menjaga hati sahabatku, mencuri waktu untuk bertemu
Rasakan perih sahabatku, membuang waktu untuk cemburu
Terbersit barang sedetik kita jauh
Hilanglah kita jatuh
Terbersit barang sedetik kita jatuh
Kau tersungkur, tersungkur, dan jauh
Lalu ku tersungkur, tersungkur, dan jatuh, dan jauh

Habiskan hati sahabatku, mencari ragu untuk dibunuh
Menangkap nyali sahabatku, mengisi jantung seakan candu
Petik sakit, percayai, sangka baik, takkan sulit
Beri, trima, senyum, hina, sakit, rasa, tawa sahabat

sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa ~Frau~

Di rentang waktu yang berjejal dan memburai, kau berikan,
Sepasang tanganmu terbuka dan membiru, enggan

Di gigir yang curam dan dunia tertinggal, gelap membeku
Sungguh, peta melesap dan udara yang terbakar jauh

Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa
Seperti takkan pernah pulang kau membias di udara dan terhempaskan cahaya
Seperti takkan pernah pulang, ketuk langkahmu menarilah di jauh permukaan

Di rentang waktu yang berjejal dan memburai, kau berikan,
Sepasang tanganmu terbuka dan membiru, enggan

Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa
Seperti takkan pernah pulang  kau membias di udara dan terhempaskan cahaya
Seperti takkan pernah pulang, ketuk langkahmu menarilah di jauh permukaan

Jalan pulang yang menghilang, tertulis dan menghilang,
karena kita, telah bercinta di luar angkasa

Jalan pulang yang menghilang, tertulis dan menghilang,
karena kita, sebab kita, telah bercinta di luar angkasa

Hai ^^

Hai, sapamu,
Malu-malu mengintip di balik tirai waktu
Jendelaku?
berbulan-bulan kau sibuk menuju kaca jendelaku agar bisa kulihat setiap pagi, uraimu.
Aku mengerjap takjub, masih tak percaya.
Begitukah? Padahal sebelumnya selalu luput
Kau pun terbahak,
Dalam pesanmu pagi ini,
Celotehan sunyi dan titik-titikmu di kaca jendelaku, kau menunggu,

Diam aku, mengamati, kubiarkan beberapa kali hujan menyapu jejakmu, suatu hari kubiarkan cahaya membawamu sirna, sesekali kusapa mendung di jendela tanpa hiraukanmu. Dan kau masih menunggu..

diamku? Apakah tidak cukup membuatmu terhenti?

diamku? ah iya, apalah artinya jika aku masih mengizinkanmu ada di kaca jendelaku?

Diamku, saat seharusnya kau berhak mendapat jawab,
atau Sekedar mendengarku mengucap “hai”

Namun aku masih diam, dan kau masih menunggu di kaca jendelaku,
Lama

*Menemukan embun di bawah bulan yang sama, Juni; petikan dawai, beresonansi dalam bulan ke delapan, semoga barokah di tiap keputusan ^^ aamiin*

Sogno- Andrea Bocelli

Va ti aspettero
Il fiore nel giardino segna il tempo
Qui disegnero il giorno poi del tuo ritorno
Sei cosi sicura del mio amore
Da portarlo via con te
Chiuso nelle mani
Che ti porti al viso
Ripensando ancora a me
E se ti servira lo mostri al mondo
Che non sa che vita c’e
Nel cuore che distratto sembra assente
Non sa che vita c’e
In quello che soltanto il cuore sente
Non sa.

Qui ti aspettero
E rubero I baci al tempo
Tempo che non basta a cancellare
Coi ricordi il desiderio che
Resta chiuso nelle mani
Che ti porti al viso
Ripensando a me
E ti accompagnera passando le citta da me
Da me che sono ancora qui
E sogno cose che non so di te
Dove sara che strada fara il tuo ritorno
Sogno

Qui ti aspettero
E rubero I baci al tempo
Sogno
Un rumore il vento che mi sveglia
E sei gia qua.

—————————————–

Go, I will wait for you
The flowers in the garden mark the time
Here I will draw the day of your return
You are so sure of my love
You take it away with you
Cupped in your hands
When you touch your face
As you still think of me
And if you need to, you can show the world
The world that doesn’t know what life there is
In an uncaring absent heart
Doesn’t know what life there is
In that only the heart can feel
Doesn’t know.

Here I will wait for you
And steal kisses from time
Time is not enough to erase
The memories and the desire that
Remains closed in your hands
That you bring to your face.
You still think of me
It will follow you and passing me in the city
I’ll still be here
Dreaming of things that I don’t know about you.
Where is the road that you will take on your return
I dream

Here I will wait for you
And steal kisses from time
I dream
A noise, the wind awakens me
And you’re already here.

Suara, Aksara dan Cahaya

Sebenarnya sih, dalam rangka memaksa diri agar lebih produktif lagi, oh, lihatlah.. sudah berapa lama diri ini dalam masa dormansi? Sungguh, sejak saat mimpi itu terpenggal, bukankah kau merasa bahwa semua sama? Mana mungkin ada penghidupnya? Ketika Allah pertemukan justru dengan para ‘pembunuh’-nya. Atau dipertemukan dengan pengagum, yang kemudian mencampakkan mimpi. Bahkan mimpinya sendiri. miris ya? Seharusnya tidak seperti itu kan, Tuhan?

Aku mengenalnya lewat buku, melalui kata-katanya, aku tahu apa itu bahagia, apa itu cinta, apapun yang dia rasakan. Aku belajar merasakannya. Ya, tulisan dan buku adalah ekspresi paling jujur, menurutku. Memang, ia bisa diedit sedemikian rupa. Tapi dia tak akan berdusta tentang rasa kan? Paling tidak, tentang rasamu. Rasa yang telah teramu dalam gurat aksaramu. Dan mimpi adalah satu-satunya benda paling murni yang kita miliki. Bebas, tak akan bisa dirampas. setidaknya untukku yang tak akan membiarkan orang lain merampas dia dariku. 🙂

Mimpiku itu bernama aksara. Ialah yang pertama kali kucintai sejak huruf pertama itu terucap. huruf pertama yang ibu ajarkan kepadaku. huruf “A”. Mengawali abjad, mengawali namaku. Betapa jatuh cintanya aku pada huruf “A”. @_@ Selain itu, “A” adalah huruf vokal yang penting 😀 paling sering kutulis. Huruf awal penciptaku, always “A”. Agak sinting memang, sampai-sampai aku terobsesi olehnya. @_@ mengapa tidak O? for Outstanding? Haha lain cerita jika namaku Oni 😀

Bagiku, mencintai aksara seperti mencintai cahaya. Pancarannya selalu bisa hangatkan jiwa. 🙂 memikat cahaya, merekamnya.. dan membagikannya, tentu. 🙂 aksara dan cahaya adalah dua hal penting dalam hidupku. Aksara, dengannya aku menari dengan pena. cahaya, dengannya aku memikat dengan lensa. itulah keajaiban yang sering orang lewatkan 🙂 oh, satu lagi. keajaiban itu juga bernama suara.

Suara yang muncul karena getaran udara. 😀 Lain soal dengan suara hati. Kebanyakan terdispersi, kemudian lenyap ditelan senyap. Suara itu, penyampai nada. Atau bisa jua seluruh bentuk suara adalah nada. Beberapa anak manusia membencinya. Aku? Salah satu yang terpesona oleh keajaibannya. 😀 sampai-sampai hiperbolis akut, tak bisa hidup tanpanya. Hehehe. Bayangan ketakutan konyol jika hidupku harus ‘senyap’. 😦

Setiap manusia punya ketiganya. Spesial dengan akal. Tuhan mencipta kita penuh sempurna. Alhamdulillah ya 😀 semoga Allah perkenankan menggunakannya untuk meraih dunia-akhiratku. Aamiin 😀

“If You’re Not The One” , Daniel Bedingfield

If you’re not the one then why does my soul feel glad today?

If you’re not the one then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine then why does your heart return my call
If you are not mine would I have the strength to stand at allI’ll never know what the future brings
But I know you’re here with me now
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life withI don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way that I can stay in your arms?

If I don’t need you then why am I crying on my bed?
If I don’t need you then why does your name resound in my head?
If you’re not for me then why does this distance maim my life?
If you’re not for me then why do I dream of you as my wife?

I don’t know why you’re so far away
But I know that this much is true
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with
And I wish that you could be the one I die with
And I pray in you’re the one I build my home with
I hope I love you all my life

I don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I can stay in your arms?

‘Cause I miss you, body and soul so strong that it takes my breath away
And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today
‘Cause I love you, whether it’s wrong or right
And though I can’t be with you tonight
You know my heart is by your side

I don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I could stay in your arms

Tentang di

Yaa Tuhan!! Pekikku tak sabar. Meloncat-loncat dalam kepungan nada. Heii, bahkan huruf-huruf di tanganku bersorak sorai. Musik cinta, huruf-huruf cinta yang merangkaikannya, sempurna.

Aku tertawa melihatnya bertingkah. Gesekan biola itu benar-benar membiusku. Manyun? Oh, lupakanlah itu. Bahkan saat ini aku tersenyum, lebar, sangat lebar malah. Barangkali laki-laki di sebelahku ini menganggapku tidak waras. Whatever… ternyata, selalu begitu sederhana menemukannya dan akan selalu seperti itu.

Percik-percik air itu mencuri pembicaraanku, tentang dia. Halaman pertama, selalu ada keajaiban dalam hidupmu, begitu tulisnya. Oh, tentu, akulah magnetnya, bisikku padanya kemudian terkekeh memandangi senja. Namun, sesaat kemudian irama berganti dan aku memilih diam.

Masih aku.
Halaman kedua, kau akan menemukanku sepertimu, begitu tulisnya. Aku tertawa. Terpesona. Antara mengiyakan atau menyangkalnya. Tiba-tiba dihentikanlah langkahnya. Diam.

Halaman tiga? Tanyaku.
Kau membisu. Tanpa aksara di tubuhmu.

Aku panik. Sedetik, dua detik, dimana dia? di wajahmu? Wajah secangkir kopi,
Dimana dia? Aku mulai merajuk, kesal.
di punggungmu? Sama seperti wajah kopimu, legam..
Dimana dia? Aku menatapnya. Terpesona lagi.

Ya, kau benar, aku menemukanmu sepertiku. Tentang dia dalam peluk awalan, tentang dia dalam peran predisposisi. Tentang dia, diamana? dia sini,dia hatiku.

Dalam tumpukan aksara menjelang gulita, sepotong senja untuk Na 🙂 24 aug 2013

Biarkan aku bercahaya

Bising senja, menanti seruan Tuhan di persimpangan jalan kota ini. Pengap, mengasapiku, benar-benar merampas sepiku ketika berdiam diri
Menanti gulita, cinta…
Berulang kali bisikku padamu.
Namun dengan sengit kau berpijar kelabu, jauh di ufuk senja itu.
Masih kau peluk jingga itu, erat.
Aku berbisik lagi, masih tetap menantinya, cinta..
Namun dengan pongah kau guratkan merah jambu pada bayi gulitaku.
Terdiam aku, menunggu  dan memohon agar waktu segera merampasmu.
Agar waktu segera menjadikanku satu-satunya dalam peluk gulita,
Tanpamu, cinta…
Biarkan aku bercahaya…

(maghrib di bawah langit karangmalang, Jogja, 23 aug 2013)

Bernanung pada rembulan yang sama

Episode memantaskan diri… 😀

ketika kita bernaung pada rembulan yang sama, bukankah kita menggenggam waktu yang sama pula? sekalipun Tuhan perkenankan sang waktu lebih dahulu melintasi kita, di titik ini? titik yang sempurna di saat Tuhan telah berkehendak dengan kesempurnaan-Nya. rasanya seperti menghitung detak jam saat  begitu jelas  jantung ini  berdegup dengan begitu cepatnya. masyaAllah…

Ribuan kata tak akan cukup menggambarkannya. Tak akan cukup dengan analogi apapun ketika takdir-Nya tergenggam dan menjadi milik kita secara sempurna.. inilah keajaiban yang selalu mendebarkan. Menentukan langkah di ujung jalan, yang sepenuhnya adalah milikmu 🙂 bagaimanakah melintasinya? “kamu punya Allah, Na…” percakapan dengan diri sendiri akan selalu menjadi energi lebih, ketika hati ini saling menguatkan dengan pemiliknya. semoga Allah kuatkan kita 🙂 aamiin…

Senin pagi ba’da sholat dhuha keajaiban itu datang dengan perkenan Allah… membawaku dalam lautan ilmu. hehe, insyaAllah… karena di luar rencanaku, sungguh inilah rencana-Nya yang berjalan dengan sempurna ^_^/ sepanjang jalan itu bersamaMu, menemukan-Mu dalam setiap hembus nafasku. Justru di sepanjang jalan itu banyak dialog antara kita, berproses secara sempurna. refleksi curhatan dengan-Mu Ramadhan kemarin Yaa Rabb…

membaca beberapa catatan teman yang akhirnya sudah duluan. hiks.. hahaha lebay deh :p alhamdulillah, terucap syukur yang membahagiaan, semoga penuh kebarokahan :). dalam satu waktu, ternyata mendekati-Mu itu berarti mendekatkan mereka yang mendekati-Mu juga Yaa Rabb? menuangkan doa-doa yang akhirnya Kau ijabah dengan keajaiban-keajaiban. keadaan yang beberapa waktu lalu kurindukan, berkumpul dengan teman-teman yang shalihah.. Hingga akhirnya keputusan ekstrim di bulan kedua itu mengantarku kepada keajaiban yang melahirkan tawa dan dalam waktu yang sama telah menghamilkan derai airmata. (dalam hujan bulan ketiga itu, menghirup udara laut yang menyesakkan, hiks T_T rasanya pengen nyemplung laut deh, haha lebay @_@)

Menghirup asinnya udara pantai, waktu itu sih pengen banget lihat matahari tenggelam. 😦 tapi ternyata si mendung merebut view itu dariku 😦 😦 akhirnya hujan menggiring kami pulang. suntuk di dalam mobil, akhirnya ketiduran (man of sleep mode: on deh, wkwk golongan darah O ^^) loh kok jadi jalan-jalan ini? @_@

Semalam, tanda itu berulang. Semacam His, entahkah His palsu atau His sejati yang memang sudah saatnya dilahirkan. hehe. Ayat-ayat cinta-Mu, tentu… 🙂 selalu penuh cahaya, kataku… ^^ Alhamdulillah…

Sebenernya sih, kemarin siang, setelah dibuat berkaca-kaca di sepanjang jalan, setengah iri juga dengan mereka yang menemukan-Mu secara sederhana tapi luar biasa. Dan mereka saling menemukan karena-Mu. keren lah, dalam Ke”sama”an itu. 😀 Bukan hanya berarti sekufu loh, tapi benar-benar “sama”. Well, akhirnya aku terbaca juga kemarin siang. layaknya buku yang terbuka… “Tak pernah mudah memang, tapi seringkali kita banyak menghitung dengan Allah, Na..” mendadak speechless “kita tidak pernah tahu yang terbaik untuk kita, sudah saatnya kita beribadah dengan hati..” what a surprise? :-O

kejutan apa lagi yah selama 2 pekan ke depan? harus belajar banyak nih memantaskan diri di jalan ini… Bismillah.. ^^ semoga Allah mudahkan semuanya. Melahap buku-buku yuuuk 😀 😀 eeeh @_@ jadi rayap, *cling* semoga Allah jadikan pribadi yang penuh manfaat esok hari, memikat cahaya, dan menjadikannya penerang dalam gulita, seperti rembulan 🙂 semoga purnama malam ini memenjarakan malam dengan cantik, menyalakan lukisan Tuhan yang memijarkan mimpi-mimpi kita.

(menanti Desember, 23 august 2013, sahurku ^_^, dalam doaku…)