Hujan dan Rembulan (1)

Hujan merintik di penghujung bulan ini, akhir musim kemarau katanya; tapi lihatlah, saat ini iklim begitu aneh.

Cuaca menyerap cahaya, dititipkannya panas pada udara, digantungnya awan yang mengandung hujan.. kemudian dituangkanlah isi perut awan, rinai di atas dedaunan, membentuk gelombang di atas air kolam, merindu dalam dekap waktu..

Angin telah membawamu kepadaku, malam ini… menyisakan sesak dedaunan yang kau lukai.. kau, mengaliri kelopak mataku.. suara tubuhmu yang jatuh di antara batu, aromamu, bau tanah yang menguap…

Rembulan sedang bersembunyi barangkali..
Di tengah hujan, betapa aku merindukan bulan…
Di dalam hujan, berbisik mesra aku pada-Nya..
Bulirnya, meruntuhkanku dalam doa..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s