Terbaik Menurut-Mu

Airmata, dua jam yang lalu reflek membasahi pipiku. Sedih, syok, menjerit histeris mungkin, di hadapanku, wajah mungil itu diam, membiru…

Yaa Allah, waktu yang tidak tepat. Itukah Yaa Rabb? Mungkin menurut kami, tapi tidak menurut-Mu. Terbaik menurut-Mu.

Semua terjadi atas kehendak-Mu,,

Sedetik, dua detik, menit-menit pertamamu, kau masih membisu. Lima menit, jantungmu berdegup lalu diam. Masih terus berharap…
Ayo, kamu pasti bisa, nak.. bundamu berdoa.. aku? Dalam kepasrahan pada Allah, yang terbaik untukmu…

Menit-menit berikutnya, degup-degup penuh cinta-Nya… 700 gram. Kau mungil sekali nak, cantik.. bisikku… kau kuat, berjuanglah… Ayah dan bunda pun berdoa untukmu…

Pasrah…
Rintihmu mulai terdengar, betapa bahagianya kami. Namun kau masih begitu rapuh untuk bernafas sendiri. Kalian berdua, hadir di dunia karena perkenan-Nya..

Azan pun mengalun merdu untukmu …dua bidadari kecil… semoga Allah menyayangimu, dalam waktu terbaik menurut Allah..

detik-detik beranjak, akankah esok kulihat tangguhmu?
dekap hangat penuh cinta untukmu, Nak…

1/9/13 rumah kedua, terbaik menurut Allah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s