Suara, Aksara dan Cahaya

Sebenarnya sih, dalam rangka memaksa diri agar lebih produktif lagi, oh, lihatlah.. sudah berapa lama diri ini dalam masa dormansi? Sungguh, sejak saat mimpi itu terpenggal, bukankah kau merasa bahwa semua sama? Mana mungkin ada penghidupnya? Ketika Allah pertemukan justru dengan para ‘pembunuh’-nya. Atau dipertemukan dengan pengagum, yang kemudian mencampakkan mimpi. Bahkan mimpinya sendiri. miris ya? Seharusnya tidak seperti itu kan, Tuhan?

Aku mengenalnya lewat buku, melalui kata-katanya, aku tahu apa itu bahagia, apa itu cinta, apapun yang dia rasakan. Aku belajar merasakannya. Ya, tulisan dan buku adalah ekspresi paling jujur, menurutku. Memang, ia bisa diedit sedemikian rupa. Tapi dia tak akan berdusta tentang rasa kan? Paling tidak, tentang rasamu. Rasa yang telah teramu dalam gurat aksaramu. Dan mimpi adalah satu-satunya benda paling murni yang kita miliki. Bebas, tak akan bisa dirampas. setidaknya untukku yang tak akan membiarkan orang lain merampas dia dariku. 🙂

Mimpiku itu bernama aksara. Ialah yang pertama kali kucintai sejak huruf pertama itu terucap. huruf pertama yang ibu ajarkan kepadaku. huruf “A”. Mengawali abjad, mengawali namaku. Betapa jatuh cintanya aku pada huruf “A”. @_@ Selain itu, “A” adalah huruf vokal yang penting 😀 paling sering kutulis. Huruf awal penciptaku, always “A”. Agak sinting memang, sampai-sampai aku terobsesi olehnya. @_@ mengapa tidak O? for Outstanding? Haha lain cerita jika namaku Oni 😀

Bagiku, mencintai aksara seperti mencintai cahaya. Pancarannya selalu bisa hangatkan jiwa. 🙂 memikat cahaya, merekamnya.. dan membagikannya, tentu. 🙂 aksara dan cahaya adalah dua hal penting dalam hidupku. Aksara, dengannya aku menari dengan pena. cahaya, dengannya aku memikat dengan lensa. itulah keajaiban yang sering orang lewatkan 🙂 oh, satu lagi. keajaiban itu juga bernama suara.

Suara yang muncul karena getaran udara. 😀 Lain soal dengan suara hati. Kebanyakan terdispersi, kemudian lenyap ditelan senyap. Suara itu, penyampai nada. Atau bisa jua seluruh bentuk suara adalah nada. Beberapa anak manusia membencinya. Aku? Salah satu yang terpesona oleh keajaibannya. 😀 sampai-sampai hiperbolis akut, tak bisa hidup tanpanya. Hehehe. Bayangan ketakutan konyol jika hidupku harus ‘senyap’. 😦

Setiap manusia punya ketiganya. Spesial dengan akal. Tuhan mencipta kita penuh sempurna. Alhamdulillah ya 😀 semoga Allah perkenankan menggunakannya untuk meraih dunia-akhiratku. Aamiin 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s