Sogno- Andrea Bocelli

Va ti aspettero
Il fiore nel giardino segna il tempo
Qui disegnero il giorno poi del tuo ritorno
Sei cosi sicura del mio amore
Da portarlo via con te
Chiuso nelle mani
Che ti porti al viso
Ripensando ancora a me
E se ti servira lo mostri al mondo
Che non sa che vita c’e
Nel cuore che distratto sembra assente
Non sa che vita c’e
In quello che soltanto il cuore sente
Non sa.

Qui ti aspettero
E rubero I baci al tempo
Tempo che non basta a cancellare
Coi ricordi il desiderio che
Resta chiuso nelle mani
Che ti porti al viso
Ripensando a me
E ti accompagnera passando le citta da me
Da me che sono ancora qui
E sogno cose che non so di te
Dove sara che strada fara il tuo ritorno
Sogno

Qui ti aspettero
E rubero I baci al tempo
Sogno
Un rumore il vento che mi sveglia
E sei gia qua.

—————————————–

Go, I will wait for you
The flowers in the garden mark the time
Here I will draw the day of your return
You are so sure of my love
You take it away with you
Cupped in your hands
When you touch your face
As you still think of me
And if you need to, you can show the world
The world that doesn’t know what life there is
In an uncaring absent heart
Doesn’t know what life there is
In that only the heart can feel
Doesn’t know.

Here I will wait for you
And steal kisses from time
Time is not enough to erase
The memories and the desire that
Remains closed in your hands
That you bring to your face.
You still think of me
It will follow you and passing me in the city
I’ll still be here
Dreaming of things that I don’t know about you.
Where is the road that you will take on your return
I dream

Here I will wait for you
And steal kisses from time
I dream
A noise, the wind awakens me
And you’re already here.

Advertisements

Rumah Kita

Memang selalu lebih baik rumah kita sendiri, selalu lebih nyaman rumah kita sendiri. Sebagus apapun yang menjadi persinggahan kita. 😀 Mendadak jadi sangat bersyukur ketika Allah menjadikanku terdampar di bangunan itu. Rumah kita, menemukan jiwa-jiwa yang mempesona, menemukan kehidupan yang beraneka warna di sana. Mewarnai dengan diriku yang berbeda. 🙂

Mereka bilang sih aneh pada saat pertama. Betapa masa adaptasi itu membuatku belajar banyak hal. Sistem, manusia, aku, dan bagaimana aku hidup di sana. Tawa, airmata, atau sekedar sikap denial atau apatis kronis yang pernah kuidap di sana. Sampai aku yang super eksis ketika sudah menemukan pola-nya. ketika sudah menemukan ‘jiwa’-ku di sana. Ya, Rumah Kita. Aku telah menjadi salah satu pewarna-nya. jingga-kah? atau sekedar merah bata yang sederhana? Tetapi rumah itu tetap menyebutku pelangi, diam-diam mewarnai dalam sunyi. 🙂

Hujan semalam membuatku rindu. Dua pekan yang berjalan pun cukup membuatku rindu rumah. Mulai apatis dan menolaknya. Singgah di rumah megah itu membuatku gerah. Kalau bukan karena hujan yang memaksaku, tak kan kusinggahi  bangunan itu. Tapi bagaimana aku akan merindukan rumah kita jika tak pernah sekalipun singgah?

Memenuhi perintah, tapi entah mengapa melihat mereka menjalankan tugasnya membuatku jadi bertanya-tanya. Lagi-lagi penolakan yang menyiksa. Jiwa yang dulu kubanggakan, jas putih yang dulu sampai kutangisi karena terkena tinta hitam, panggilan-Mu itu Tuhan? Jalan yang telah Kau pilihkan untukku.

Menyesal? Oh, tidak.. bukan itu maksudku. Hanya saja rasa egois yang lebih menyitaku. Ataukah karena terbiasa dengan zona nyaman di rumah? Bagaimanapun, rumah kita tetap lebih nyaman. 😥 (nggak kebayang kalo harus pergi T_T) Hehe. menghitung hari banget deh 😀 cepatlah hari Kamis, sudah rindu rumah >_<v

Memangnya berapa harga sebuah kepercayaan? Sampai aku tak habis pikir, kau khawatir…

Berapa harganya? Sampai kau menganggap yang lain hina?

mengapa bersama jika tak percaya?
mengapa mengikat jika tak mau diikat?
Mengapa berprasangka tanpa mencari nyata?

aku juga manusia, kita sama.

Secangkir kopi berwarna pelangi

Secangkir kopi berwarna pelangi
Kemarin tertuang di halaman bukuku, Ayah…
Merah jambu dan kelabu.
Nodai lukis biru-mu…

Warna  itu merenggut masa laluku, Ayah…
Dan aku mulai khawatir…
ia akan merebutku darimu…
Kau tahu pasti, warna itu, warna yang sama kugoreskan di tembok rumahmu, dua puluh tahun yang lalu…

Kutanya tentang secangkir kopi berwarna pelangi, kau hanya terdiam.
Dulu, kau pernah meminta, segelas coklat panas.
Kau akan meminumnya dan tertawa lepas.

Aku tidaklah selezat coklat panas, Ayah… Kataku setiap kali menatapmu,
Hening,
kau terdiam lagi, mengerutkan kening,
Tak seulas senyum,
Aku cemas menerka,
Apakah kita begitu berbeda untuk berbahagia?

-Untuk Bapakku..,dunia kita begitu berbeda tp Allah jadikan satu dlm takdir-Nya; bersyukur memilikimu; dalam kopi pelangiku dan coklat panasmu, sempurna.
Only you, sampai saat itu tiba-

Na, pre assesement @_@ need O2, haikal, rjp, vtp, tpm dan atm. Pre syok @_@
Buku dan cemilan 😀 ayo belajarr

Klapertaart Kukus

DSC_0574 –> klapertaart kukus

Ditodong temen kantor buat masakin makanan yang aneh. Udah lama sih, sudah dipenuhi April kemarin. heuheu.. Akhirnya, di antara beberapa opsi makanan yang pengen mereka makan, jatuhlah pilihan itu pada klapertaart kukus. 😀 Sebenernya sih mereka mupeng banget pengen yang klapertaart ori yang dipanggang. Pernah bawa beberapa iris ke kantor daan, mereka jatuh cinta :-D. Oke, berhubung di kantor tidak ada oven, jadilah seadanya saja. Tiada oven, kukusan pun jadi. 😀

Asal klapertaart ini dari Manado. Makanan ini sebenarnya sangat simpel dan manis 😀 (kayak yang bikin :-p hahaha kumat narsisnya-red). Selain untuk kudapan bersama keluarga, klapertart ini pun bisa dimodifikasi untuk hantaran loh. Sempat ada teman yang pesan pas lebaran kemarin, tapi karena keterbatasan waktu dan tenaga belum bisa terpenuhi 😦 maaf ya mbak…

Untuk resep, Na awalnya pakai resep original klapertaart yang akhirnya dimodifikasi sendiri sesuka hati. hehe. icip-icip terus dan pasti melalui fase galau @_@. hal yang paling menggalaukan adalah masak untuk orang lain. H2C deh alias harap-harap cemas. 🙂 Sering kali kita merasa kurang oke, tapi Alhamdulillah mereka bilang oke 😀 apapun komentar dan masukan konsumen, selalu menjadi catatan dan perbaikan kualitas masakan kita ^^

Resep Klapertaart Kukus

– 8 Lembar roti tawar, buang pinggirannya

– 100 ml susu cair plain untuk merendam

Vla

– santan instan 90 ml larutkan dengan air  sebanyak 350ml

– air kelapa 200 ml (opt. kalau mau hasil vla yang lebih cair)

– 2 lembar daun pandan, ikat

– 25 gr maizena

– 1 sdm tepung terigu

– 75 gr gula pasir

– 1/2 sdt garam halus

– 2 butir telur kocok lepas

– 1/4 sdt vanilli bubuk

– 250 gr kelapa muda

– 50 gr kismis, rendam air hangat, tiriskan.

Cara Membuat:

– Rendam roti tawar dalam susu. tata dalam loyang tahan panas.

– vla–> rebus santan, air kelapa, daun pandan, maizena, terigu, gula dan garam sampai kental. masukkan telur, vanili bubuk, kelapa muda, dan kismis. aduk rata

– tuang vla di atas roti tawar yang sudah ditata di loyang tahan panas, kukus dengan api sedang selama 30 menit atau sampai matang.

simpel kan? ^^ . selamat mencoba.

DSC_0155–> yang ini versi ori klapertaart. butuh oven untuk bikin lapisan putih telur bagian atasnya. hehe. kapan-kapan posting deh, 😀

Suara, Aksara dan Cahaya

Sebenarnya sih, dalam rangka memaksa diri agar lebih produktif lagi, oh, lihatlah.. sudah berapa lama diri ini dalam masa dormansi? Sungguh, sejak saat mimpi itu terpenggal, bukankah kau merasa bahwa semua sama? Mana mungkin ada penghidupnya? Ketika Allah pertemukan justru dengan para ‘pembunuh’-nya. Atau dipertemukan dengan pengagum, yang kemudian mencampakkan mimpi. Bahkan mimpinya sendiri. miris ya? Seharusnya tidak seperti itu kan, Tuhan?

Aku mengenalnya lewat buku, melalui kata-katanya, aku tahu apa itu bahagia, apa itu cinta, apapun yang dia rasakan. Aku belajar merasakannya. Ya, tulisan dan buku adalah ekspresi paling jujur, menurutku. Memang, ia bisa diedit sedemikian rupa. Tapi dia tak akan berdusta tentang rasa kan? Paling tidak, tentang rasamu. Rasa yang telah teramu dalam gurat aksaramu. Dan mimpi adalah satu-satunya benda paling murni yang kita miliki. Bebas, tak akan bisa dirampas. setidaknya untukku yang tak akan membiarkan orang lain merampas dia dariku. 🙂

Mimpiku itu bernama aksara. Ialah yang pertama kali kucintai sejak huruf pertama itu terucap. huruf pertama yang ibu ajarkan kepadaku. huruf “A”. Mengawali abjad, mengawali namaku. Betapa jatuh cintanya aku pada huruf “A”. @_@ Selain itu, “A” adalah huruf vokal yang penting 😀 paling sering kutulis. Huruf awal penciptaku, always “A”. Agak sinting memang, sampai-sampai aku terobsesi olehnya. @_@ mengapa tidak O? for Outstanding? Haha lain cerita jika namaku Oni 😀

Bagiku, mencintai aksara seperti mencintai cahaya. Pancarannya selalu bisa hangatkan jiwa. 🙂 memikat cahaya, merekamnya.. dan membagikannya, tentu. 🙂 aksara dan cahaya adalah dua hal penting dalam hidupku. Aksara, dengannya aku menari dengan pena. cahaya, dengannya aku memikat dengan lensa. itulah keajaiban yang sering orang lewatkan 🙂 oh, satu lagi. keajaiban itu juga bernama suara.

Suara yang muncul karena getaran udara. 😀 Lain soal dengan suara hati. Kebanyakan terdispersi, kemudian lenyap ditelan senyap. Suara itu, penyampai nada. Atau bisa jua seluruh bentuk suara adalah nada. Beberapa anak manusia membencinya. Aku? Salah satu yang terpesona oleh keajaibannya. 😀 sampai-sampai hiperbolis akut, tak bisa hidup tanpanya. Hehehe. Bayangan ketakutan konyol jika hidupku harus ‘senyap’. 😦

Setiap manusia punya ketiganya. Spesial dengan akal. Tuhan mencipta kita penuh sempurna. Alhamdulillah ya 😀 semoga Allah perkenankan menggunakannya untuk meraih dunia-akhiratku. Aamiin 😀

“If You’re Not The One” , Daniel Bedingfield

If you’re not the one then why does my soul feel glad today?

If you’re not the one then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine then why does your heart return my call
If you are not mine would I have the strength to stand at allI’ll never know what the future brings
But I know you’re here with me now
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life withI don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way that I can stay in your arms?

If I don’t need you then why am I crying on my bed?
If I don’t need you then why does your name resound in my head?
If you’re not for me then why does this distance maim my life?
If you’re not for me then why do I dream of you as my wife?

I don’t know why you’re so far away
But I know that this much is true
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with
And I wish that you could be the one I die with
And I pray in you’re the one I build my home with
I hope I love you all my life

I don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I can stay in your arms?

‘Cause I miss you, body and soul so strong that it takes my breath away
And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today
‘Cause I love you, whether it’s wrong or right
And though I can’t be with you tonight
You know my heart is by your side

I don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I could stay in your arms

Tentang di

Yaa Tuhan!! Pekikku tak sabar. Meloncat-loncat dalam kepungan nada. Heii, bahkan huruf-huruf di tanganku bersorak sorai. Musik cinta, huruf-huruf cinta yang merangkaikannya, sempurna.

Aku tertawa melihatnya bertingkah. Gesekan biola itu benar-benar membiusku. Manyun? Oh, lupakanlah itu. Bahkan saat ini aku tersenyum, lebar, sangat lebar malah. Barangkali laki-laki di sebelahku ini menganggapku tidak waras. Whatever… ternyata, selalu begitu sederhana menemukannya dan akan selalu seperti itu.

Percik-percik air itu mencuri pembicaraanku, tentang dia. Halaman pertama, selalu ada keajaiban dalam hidupmu, begitu tulisnya. Oh, tentu, akulah magnetnya, bisikku padanya kemudian terkekeh memandangi senja. Namun, sesaat kemudian irama berganti dan aku memilih diam.

Masih aku.
Halaman kedua, kau akan menemukanku sepertimu, begitu tulisnya. Aku tertawa. Terpesona. Antara mengiyakan atau menyangkalnya. Tiba-tiba dihentikanlah langkahnya. Diam.

Halaman tiga? Tanyaku.
Kau membisu. Tanpa aksara di tubuhmu.

Aku panik. Sedetik, dua detik, dimana dia? di wajahmu? Wajah secangkir kopi,
Dimana dia? Aku mulai merajuk, kesal.
di punggungmu? Sama seperti wajah kopimu, legam..
Dimana dia? Aku menatapnya. Terpesona lagi.

Ya, kau benar, aku menemukanmu sepertiku. Tentang dia dalam peluk awalan, tentang dia dalam peran predisposisi. Tentang dia, diamana? dia sini,dia hatiku.

Dalam tumpukan aksara menjelang gulita, sepotong senja untuk Na 🙂 24 aug 2013

Biarkan aku bercahaya

Bising senja, menanti seruan Tuhan di persimpangan jalan kota ini. Pengap, mengasapiku, benar-benar merampas sepiku ketika berdiam diri
Menanti gulita, cinta…
Berulang kali bisikku padamu.
Namun dengan sengit kau berpijar kelabu, jauh di ufuk senja itu.
Masih kau peluk jingga itu, erat.
Aku berbisik lagi, masih tetap menantinya, cinta..
Namun dengan pongah kau guratkan merah jambu pada bayi gulitaku.
Terdiam aku, menunggu  dan memohon agar waktu segera merampasmu.
Agar waktu segera menjadikanku satu-satunya dalam peluk gulita,
Tanpamu, cinta…
Biarkan aku bercahaya…

(maghrib di bawah langit karangmalang, Jogja, 23 aug 2013)